Pages

Powered by Blogger.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, January 9, 2015

Antara Takdir Dan Do’a


Saat gelombang menyapu tenangnya samudera, saat hujan menghapus jejak langkah yang telah ditapaki, sejak itulah kepercayaan dua insan di uji melalui kekuatan hatinya. Berawal dari keutuhan cinta yang begitu istimewa, hingga berujung pada suatu celah ketidak yakinan seorang insan terhadap belahan jiwanya.
            Saat mentari membasuh dinginnya pagi, terlihat seorang pemuda dengan ceria nya sedang duduk di atas sepeda. Nampaknya kala itu, dia sedang menunggu seseorang. Dia begitu risau sembari melihat jam dipergelangan tangannya. Beberapa saat berlalu, wanita dengan elok rupawan mulai menghampiri pemuda tersebut. Ternyata wanita itulah yang ia tunggu sejak tadi. Dengan senyum hangat menyapa, pemuda dan gadis tersebut mulai pergi dengan sepeda kayuh yang dimiliki pemuda itu. Meski zaman telah berganti, keduanya masih tersenyum lebar bertatapan dengan penuh cinta walau hanya menaiki sepeda.
            Tibalah disuatu rumah, rumah yang selalu menjadi penghangat pemuda, rumah yang selalu ada saat jiwa mulai kelelahan. Yah, dirumah itulah sang pemuda tinggal. Mereka istirahat sejenak dari rutinitas yang begitu melelahkan. Sang gadis bersandar di bahu pemuda tersebut, seolah dia membutuhkan sandaran seseorang yang sangat dia cintai. Keduanya memang telah bertunangan 2 tahun yang lalu. Mereka dipertemukan dengan cara yang sederhana namun begitu indah bagi mereka berdua. Senyap terasa dirumah itu, lalu mulailah percakapan antara keduanya.
“Sayang..”, sapa wanita yang bernama fia itu.
“Iya sayang..”, sahut laki-laki menatap nya dengan kelembutan, laki-laki yang bernama zanil.
“Kira-kira kapan kita akan melangsungkan pernikahan sayang?”, Tanya fia dengan dengan mata penuh harap.
“Sabar ya sayang, aku masih mencari pekerjaan yang layak agar kita bisa segera menikah.”, jawab zanil dengan resah.
“Iya sayang, aku akan menunggu. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu datang bersama orang tuamu membicarakan hari bahagia kita berdua.”, fia berharap
“Pasti sayang, pasti akan tiba saat nya kita dipertemukan kembali dengan suatu keluarga utuh antara kau dan aku, membicarakan hal yang selalu kita impi impikan”, jawab zanil sembari mencium kening fia serasa ingin mewujudkan impian mereka menuju pernikahan.
            Meskipun keduanya telah lama menjalin tali kasih, namun bagi fia, sosok zanil merupakan sosok laki-laki yang selalu dia impikan menjadi imam dalam keluarga kecil nya kelak. Zanil yang selalu membuat dia menjadi wanita yang berharga, laki-laki yang selalu mengembalikan senyum fia yang telah lama hilang. Cinta Fia terhadap Zanil takkan habis ditelan masa. Baginya, kehadiran Zanil sebagai penyejuk duka lara, penyejuk hati yang gundah gulana. Hanya Zanil lah yang selalu Fia harapkan, takkan ada yang lainnya.
“Sayang, sudah memasuki waktu ashar, sholat dulu yuk.”, ajak fia.
“Iya sayang, abis ini kita ngaji bareng ya. Sudah lama rasanya tidak merasakan ngaji bersama-sama.”, pinta zanil tersenyum.
“He’em, ayuk..”, jawab fia.
            Dalam linangan air mata, do’a mereka panjatkan. Memohon agar selalu diberi kesempatan untuk saling menyayangi dan merawat satu sama lain. Berharap bisa secepatnya bersatu dengan meminta rezeki yang berlimpah bagi keduanya. Dengan penuh kasih sayang, fia mencium tangan calon imam bagi keluarga kecilnya itu, zanil pun membalas mencium kening fia dengan sebaris do’a yang dia penjatkan didalamnya.
Waktu sudah hampir  senja, waktunya zanil mengantarkan fia pulang ke kontrakan. Besok fia harus memulai kerja pertama nya.
“Kamu gak malu naik sepeda ini bersamaku?”, tanya zanil.
“Kenapa harus malu? Asal bersamamu, semuanya akan aku lalui. Jangan berbicara seperti itu, aku terima semua keadaanmu saat kondisi tersulit apapun itu.”, jawab fia dengan tersenyum.
“Iya sayang..”, sahut zanil.
            Semakin lama, mereka jarang bertemu. Fia sibuk dengan pekerjaannya, Zanil pun juga sibuk dengan pekerjaan yang dia miliki sekarang. Sampai suatu saat, Fia ingin mendengar suara Zanil dalam kesibukannya.
“Sayang gimana kabarnya? Ada waktu luang gak, mari kita bertemu.”, Ajak Fia.
“Maaf ya sayang, aku masih sibuk akhir pekan ini, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”, jawab Zanil ditengah kesibukannya lalu menutup telfonnya.
            Fia merasa malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya sebelum dia dan Zanil bekerja. Malam beberapa pekan itu begitu asing bagi Fia, tak sama dengan malam yang selalu dia lewatkan bersama Zanil dibawah hamparan bintang-bintang yang menghiasi angkasa. Sampai beberapa hari kemudian, Zanil mengajak Fia untuk bertemu. Fia merasa bahagia, waktu yang dia harapkan, akhirnya datang juga.
“Makasi banget ya sayang, kamu sudah mau ngajak aku bertemu di tengah kesibukan mu.”, ucap Fia dengan hati berbunga-bunga.
“Iya sayang, sebenarnya bukan Cuma itu niatku mengajakmu bertemu malam ini”, jawab Zanil sambil menunduk.
“Ada apa sayang?”, tanya Fia penasaran.
“Begini, besok aku harus melakukan penerbangan pertamaku ke luar negeri karena urusan pekerjaan, aku ingin pamitan untuk sementara waktu”, jelas Zanil
Dengan uraian air mata, Fia sangat berat melepas kepergian Zanil. Dia tidak terbiasa tanpa Zanil disisinya. Orang yang selalu melindungi dan menemaninya setiap Fia membutuhkannya. Namun, demi masa depan Fia dan Zanil yang lebih cerah, Fia akhirnya mengizinkan Zanil pergi meski dengan hati yang tak rela. Mungkin ini jalannya, jalan rezeki yang Allah berikan agar secepatnya keduanya melangsungkan hari bahagia, hari pernikahan mereka.
Telah satu bulan waktu itu rasanya berlalu, namun Zanil tak kunjung memberikan kabar. Fia berulang kali menelfon nya, tak kunjung pula Zanil mengangkatnya. Fia bertanya-tanya, sampai sesibuk itu kah dia tak mau mengangkat telfonku walau hanya berkata “hai” saja? Fia benar-benar sedih, jarak membuat perubahan besar dalam hidupnya dengan Zanil. Jarak yang memisahkan, jarak yang tak memberikan ruang untuk saling melepas kerinduan. Terkadang ingin rasanya membunuh jarak agar Fia merasakan kedekatan kembali dengan kekasih jiwanya itu.
Suatu sore yang begitu kelam untuk kehidupan Fia, dia mengunjungi rumah kontrakan yang selalu Zanil jadikan tempat beristirahatnya. Dia melangkah demi langkah, meraih benda yang berada dihadapannya. Ya, sepeda ontel yang telah menjadi saksi bisu berjuta kenangan yang telah mereka lalui bersama. Melalui sepeda itulah, Fia berimajenasi mengukir kembali kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Dia elus sepeda tua yang telah tak terawat itu, dia kembali berharap agar kekasihnya pulang untuk menghampirinya. Air mata itupun tak terbendung, tetes demi tetes air mata itu jatuh mengusap dan mengalir diantara celah sepeda yang penuh karat itu. Tak kuat dia merasakan perpisahan yang begitu lama dan begitu pahit untuk dia jalani sendiri.
“Nak, kamu gak pulang?”, tanya ibunda Fia melalui telepon genggam yang Fia berikan.
“Belum bu, aku disini masih menunggu mas Zanil.”, jawab Fia berkaca-kaca.
”Bukan kah hari liburmu telah tiba? Pulang lah nduk, tunggu Zanil dirumah saja. Kalau dia pulang, dia pasti akan menemuimu dirumah.”, rengek ibunda Fia.
“Tunggu beberapa hari lagi ya bu, mas Zanil bilang akhir bulan dia pasti pulang. Masa tenggang dia di luar negeri sudah habis bu. Ijinkan aku menunggu nya beberapa hari lagi ya bu”, pinta Fia berlinang air mata.
“Iya sudah nduk kalau itu kemauanmu, ibu hanya berdo’a agar nak Zanil cepat pulang ya nduk. Assalamu’alaikum.”, tutup ibunda Fia.
“Wa’alaikumsalam.”, jawab Fia mengakhiri telefon dengan ibunda nya.
Fia yang semula memiliki tubuh yang ideal, akhir bulan ini terlihat begitu kurus. Wajah yang dulu berseri-seri, kini lusuh tak seceria dulu. Dia memiliki banyak pikiran, memikirkan Zanil yang sampai detik itu tak kunjung menghubungi nya.
Akhir bulan telah datang, hari dimana Zanil akan pulang dengan membawa keindahan yang selalu Fia nantikan. Sejak pagi, Fia sudah bersiap diri menunggu kekasih hati pulang menemui dirinya. Hingga pada suatu sore, terdengar ketukan pintu dari luar kontrakan Fia. Dengan sigap Fia menghampiri menuju pintu, dan mulai menarik ganggang pintu dengan cepat. Dan....
“Mas Zanil...”, teriak Fia sambil memeluk Zanil dengan penuh kerinduan.
“Kenapa keadaanmu seperti ini? Kenapa kamu kurusan?”, tanya Zanil.
“Apa kamu tidak sadar kalau disini ada orang yang menunggu kepulanganmu? Kenapa sama sekali tak memberiku kabar selama disana? Apakah sudah lupa dengan calon istrimu disini?”, tanya Fia dengan penuh kesedihan.
“Maaf sayang, bukan maksudku seperti itu sayang. Tapi selama disana, ponselku disita. Jadi aku gak bisa menghubungi kamu, termasuk keluargaku”, jawab Zanil dengan penuh penyesalan.
“Apa gak bisa memakai telepon yang lain? Aku khawatir disini menantikan kabar darimu”, tanya Fia
“Maaf sayang, sekali lagi maaf. Aku sama sekali gak ingat berapa nomor telepon sayang dan orang rumah. Aku benar-benar minta maaf.”, permintaan maaf Zanil.
“Baiklah, setidaknya kamu telah sampai disini dengan selamat. Setidaknya kau pulang disini kembali untukku.”, ucap Fia.
Fia mempersilahkan Zanil masuk. Sembari menikmati makan malam, Zanil bercerita banyak tentang pengalaman luar biasa yang dimiliki nya. Tentang keluh kesah kerinduan yang setiap detik menghampirinya. Zanil tak henti-hentinya memikirkan pujaan hatinya itu. Memikirkan bagaimana keadaan calon pendaming hidupnya melewati hari-hari tanpa kehadiran dirinya disisi Fia.
Namun setelah pulang, cobaan kembali menghadang didepan mata mereka. Setelah Fia berkunjung kerumah Zanil, dengan sengaja orang tua Zanil menyindir keadaan calon menantu nya itu.
“Harusnya anakku mendapatkan wanita yang sesuai, yang sederajat dengan anakku. Lihatlah, anakku kini mulai sukses. Tapi apa yang dia dapatkan? Entahlah.”, sindir ibu Zanil didepan Fia.
Fia hanya bisa diam, dia mengerti bagaimana keadaan dan kondisi dia saat ini. Semua terserah Zanil, jika Zanil menginginkan dia tetap bersama nya, dia akan selalu setia menemani Zanil sampai waktu yang memisahkan. Namun kehendak berkata lain, Zanil termakan dan terhasut dengan kata-kata ibu nya. Perlahan-lahan dia mulai menghindar dan meninggalkan Fia. Fia merasa, hatinya begitu sakit. Ini balasan selama 5 tahun, balasan terhadap Fia yang selalu ada untuk Zanil. Saling berjanji untuk terus bersama. Sakit rasanya. Namun, mungkin ini sudah suratan takdir, Fia menerima semua yang terjadi dengan lapang dada. Mungkin Zanil memang bukan yang terbaik untuk mendampingi hidupnya.
Suatu sore yang begitu sunyi, terdengar jelas ketukan pintu dari luar rumah Fia. Dengan perlahan, Fia membuka pintu. Terlihat Zanil dan ibu nya dibalik pintu. Fia penasaran, apa yang membuat mereka datang menemuinya.
“Ada apa kalian datang kemari? Silahkan masuk dulu.”, ucap Fia mempersilahkan masuk.
“Gak usah, kita gak mau berlama-lama. Kita cuma mau ngasih ini”, jawab ibu Zanil sambil menyodorkan sebuah lipatan yang menyerupai kertas.
Zanil dan ibu nya pun beranjak pergi dari hadapan Fia.
Perlahan namun begitu pasti, Fia mulai membuka lembaran kertas itu. Isi didalamnya sangat jelas tertulis nama Zanil dengan Hera diatas lembaran kertas yang menjamin kebahagiaan Zanil nantinya. Ya, undangan pernikahan Zanil telah ada dalam genggaman Fia. Seketika, Fia tak berdaya, lemah dan mulai terjatuh. Tangisan kekecewaan pun larut dalam matanya yang sembab. Begitu dalam perasaan yang Fia punya untuk Zanil, namun seketika itu pula dia harus benar-benar melepas Zanil. Begitu mudahnya Zanil memutuskan hubungan itu dengannya, tanpa belas kasih, tanpa pula permintaan maaf dari bibir yang selalu menuangkan kata cinta beberapa bulan yang lalu. Kebahagiaan itu seakan musnah, hilang tak berbekas. Fia tidak tau apa yang harus dia lakukan, dia akhirnya membuang cincin yang selalu dia pakai di jari manisnya, cincin yang selalu dia jaga sebagai simbol ikatan hubungan yang telah mereka bina. Namun semua itu telah berakhir. Tak ada lagi harapan dan kenangan yang mesti Fia ingat kembali. Hari kemarin hanyalah masa lalu yang tidak akan pernah menjadi masa depan yang cerah.
“Ibu...”, tangis Fia dipangkuan ibunda nya.
“Ibu sudah tau nduk, yang sabar ya. Kamu harus bangkit dari masa lalumu itu nduk.”, ucap Ibunda Fia
“Iya bu, dia pasti sudah bahagia dengan pilihan orang tua dan dirinya. Bu, carikan aku jodoh yang engkau ridhoi bu. Ku serahkan sama ibu, bangkitkan aku dari keterpurukan ini bu”, pinta Fia.
“Kalau itu mau mu nduk, ibu akan mencarikan laki-laki yang InsyaAllah baik bagimu nduk.”, jawab ibunda Fia dengan nada sedih.
Waktu pun telah berlalu, Fia perlahan telah bisa beraktivitas seperti sedia kala. Menghapus jejak-jejak masa lalu yang pernah membayangi pikirannya. Hari itu pun datang, hari yang cerah bagi jiwa Fia yang telah lama sepi. Rombongan keluarga mendatangi rumah Fia. Keluarga tersebut adalah tak lain dan tak bukan, keluarga yang menginginkan Fia menjadi pendamping hidup anak mereka. Namanya Febri. Pertemuan kedua belah pihak keluarga membuahkan hal yang manis dan membahagiakan, saat itu pula kedua keluarga menyatukan tali silaturahmi dengan mengikatkan hubungan antara Fia dan Febri.
Tak lama kemudian, selang satu bulan, Fia dan Febri atas restu Allah mereka dapat melangsungkan pernikahan di rumah Fia. Keduanya pun begitu bahagia. Nampaknya Fia telah berhasil berjuang melupakan masa lalu nya. Kini yang ada dalam pikiran Fia, bagaimana caranya agar dia dapat membahagiakan suami dan keluarga kecil nya kelak. Keluarga Fia dan Febri merupakan suatu keluarga yang sempurna. Keduanya begitu menyayangi Febri dan Fia. Fia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan Febri, dia adalah sosok laki-laki yang sebenarnya dia inginkan. Terlebih kebahagiaan itu jauh lebih sempurna dengan hadirnya tangisan seorang bayi laki-laki ditengah-tengah keluarga kecil mereka.
Namun dibalik kebahagiaan Fia, kehidupan Zanil berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh keluarga kecil Fia. Bertahun-tahun dia menikahi Hera, namun tak pula dikaruniai seorang anak. Ibu Zanil kesal dan kecewa terhadap Hera yang selama ini Ibu Zanil perjuangkan dan pertahankan, ternyata tidak memberikan kebahagiaan dengan hadirnya seorang bayi mungil dikehidupan mereka. Lantas pada akhirnya Ibu Zanil mengetahui bahwa Fia telah menikah dan dikaruiani seorang anak laki-laki.
“Lihat tuh si Fia, dia malah lebih jauh bahagia daripada kita saat ini. Dia telah menikah dan dikarunai seorang anak laki-laki yang gagah. Apa kamu gak malu Nil sama keluarga mereka? Pasti mereka bahagia diatas penderitaan keluarga kita”, ucap Ibu Zanil dengan lantang.
“Sudah lah bu, kita punya kehidupan sendiri. Mungkin kebahagiaan kita bukan terletak pada seorang anak. Siapa tau suatu saat nanti Allah menjawab do’a kita”, jawab Zanil.
“Iya, tapi sampai kapan? Sudah 5 tahun kamu beristri Hera. Tapi nyatanya dia tidak memberikan apa-apa sama keluarga ini. Ibu gak mau tau, kamu ceraikan dia. Secepatnya !!!”, bentak Ibu Zanil lalu berlalu pergi.
“Tapi buuuu...”, ucap Zanil
Zanil begitu teriris melihat kelakuan ibunya yang semakin hari selalu menuruti keirian dan kedengkian. Namun bagaimanapun, dia tetap lah ibunda yang selalu merawatnya.
Setelah perceraian itu, Zanil merasa menjadi boneka yang selalu harus menuruti permintaan ibunya yang sama sekali tidak dia kehendaki. Saat itu pula dia mulai terlintas memikirkan Fia. Dia mulai menyadari, yang selalu ada untuknya selama ini hanya Fia. Dia yang rela menunggu beberapa bulan demi kedatangannya dan selalu menjaga hatinya sampai Zanil kembali. Dia yang selalu support Zanil untuk melangkah sukses, dia juga yang mau bersusah-susah dengan Zanil dulu saat Zanil tak punya apa-apa. Ya, semua alasan itu kini tertuju pada Fia. Dia merupakan sebaik-baiknya wanita yang Zanil kecewakan demi iming-iming perempuan yang sama sekali tak mengerti dirinya. Dia juga yang tak berjuang mempertahankan dan memberi penjelasan tentang apa yang telah dilakukan Fia selama dengannya pada saat Ibu nya mengucilkan dan merendahkan harga diri Fia. Sampai akhirnya dia terima begitu saja wanita yang sama sekali belum dia kenal dan tidak pernah dia cintai sesudahnya.
“Bagaimana keadaan Fia saat ini ya? Apa dia sudah benar-benar bisa hidup tanpa aku? Ahh, biarkan lah dia bahagia, ini semua salahku yang terlalu menyia-nyiakannya dulu. Maafkan aku Fia..”, pikir Zanil
Saat itu, Zanil melintas didepan rumah keluarga kecil Fia. Dia melihat Fia bersama suami dan putra tercintanya. Zanil meneteskan air mata, dia berfikir harusnya dia yang berada disamping Fia saat ini, bukan Febri. Namun keadaan ini merupakan hal yang nyata yang tidak bisa Zanil ubah kembali. Kekecewaan yang pernah dia torehkan pada hati orang lain menimbulkan petaka bagi keluarga nya sendiri. Zanil harus mampu merelakan Fia ditangan Febri, sama seperti Fia yang dulu pernah berjuang keras melupakan Zanil demi kebahagiaannya. Takdir terkadang berbeda dengan apa yang kita rencanakan. Jodoh memang ditangan Allah, namun sebaiknya saat ini mulai membuka hati dan pikiran untuk melangkah lebih serius, agar penyesalan itu tak akan terjadi dikemudian hari.

Rawatlah yang telah menjadi milikmu kini, bisa jadi suatu saat nanti ketika dia pergi, dia merupakan sosok yang sebenarnya kamu harapkan untuk mendampingi hari-harimu. Jangan kecewakan dia yang mencintaimu lebih dari apa yang kau tau. Karena dia yang sebenarnya selalu ada disaat kamu terjatuh.

Thursday, August 21, 2014

My Short Story (5)

Sahabat Terhebat

Mungkin bagi sebagian besar remaja, masa sekolah yang paling indah, menyenangkan, dan penuh kenangan adalah pada masa putih abu-abu. Yaitu masa dimana para remaja memasuki dunia baru, dunia SMA yang akan menjadikannya senantiasa dewasa. Proses dimana akan menjadi generasi muda yang bermutu dan siap menjadi pemimpin bangsa.

            Jika bagi sebagian besar merasakannya, sama hal nya dengan Anisa dan ke-3 sahabatnya (Indah, Fifi,Kiki). Semuanya menjadi indah dengan persahabatan mereka. Kebersamaan yang selalu mereka jalin menjadi lebih erat seiring dengan bertumbuhnya waktu.
Pada mulanya, ke-4 remaja ini tak saling akrab. Namun karena Anisa adalah anak yang pintar, teman-temannya selalu merapat agar Anisa mau membantu mereka dalam kesulitan mempelajari materi yang disampaikan bapak dan ibu guru. Hingga mereka semakin dekat, dan terbentuk kelompok belajar dengan ke-4 sahabat itu yang menjadi anggotanya. Meski duduk mereka tidak bersebelahan, namun kedekatan mereka membuat yang jauh semakin dekat, dan yang dekat semakin lekat. Kedekatan mereka bukan hanya didalam kelas, namun juga terlihat diluar kelas dalam segala macam suasana.

Saat bel istirahat pun berbunyi...

“Nis, ayok pergi kekantin,” ajak Indah yang saat itu menghampiri bangku Anisa.
“Bentar ya.. Mau masukin buku dulu,” Jawab Anisa.
Lalu Fifi dan Kiki juga menghampiri bangku Anisa untuk bersiap menuju kekantin.
“Eh, kalian mau beli apa? Rame banget nih kantinnya. Desek-desekan, jadi males deh. Huft,” tanya indah kesal.
“Ya sudah, aku pengen beli bakpao cokelat aja deh, tinggal ngambil aja dan gak ribet. Kalian mau beli apa?,” tanya kepada teman yang lain.
“Aku pengen beli mie, tungguin ya.,” jawab Kiki bersemangat.
“Oke deh,” Tanggap Fifi.

Setelah semua teman telah selesai membeli apa yang mereka inginkan, seperti biasa mereka nongkrong dan bersenda gurau didepan kelas. Sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Kebersamaan yang mereka lalui setiap hari memang begitu sangat dekat, pada semua kondisi, mereka tak terpisahkan.

Namun, meski mereka sahabat, tak jarang ada yang bergabung dengan mereka hanya untuk berkumpul dan bergurau bersama. Dan juga sering meminta bantuan Anisa dalam hal pelajaran disekolah.
Bahkan pada saat ulangan pun banyak teman yang meminta Anisa untuk membantu mereka untuk memeberikan jawaban. Karena sudah terbiasa, Anisa tak enggan untuk membantu teman-temannya. Karena bagi mereka, membantu merupakan hal yang terpuji, terutama membantu dalam contek mencontek. Hehe
Keunikan dari keempat sahabat ini, mereka sama-sama menjomblo sampai saat ini. Mereka sama-sama takut untuk menjalin yang namanya sebuah ikatan dengan laki-laki. Makanya mereka kerap kali sering berkumpul bersama tanpa harus sibuk dengan urusan masing-masing alias sibuk dengan pasangan masing-masing.

Namun pada suatu kesempatan, entah mengapa ada seorang laki-laki yang tak Anisa kenal mengirim pesan singkat pada Anisa. Setelah Anisa telusuri darimana laki-laki tersebut mendapatkan nomor handphone nya, ternyata dia mendapatkannya dari teman sekelas Anisa yang bernama Hafizah.

Keesokan harinya dikelas, dia menanyakan kebenarannya pada Hafizah.
“Fiz, aku mau tanya. Kamu yang ngasih nomorku ke orang yang namanya Hamdan?,” Tanya Anisa penasaran.
“Iya benar, maaf ya aku ngasih nomor kamu tanpa bilang-bilang dulu, hehe,” jawab Hafizah.
“Apa alasan kamu ngasih nomorku seperti itu?,” tanya Anisa lagi.
“Gini, Hamdan bilang sama aku dia ingin ada teman sms an. Sedangkan dikelas ini satu-satunya yang jomblo, baik dan kalem ya kamu. Makanya aku kasih nomor kamu aja, siapa tau kalian bisa dekat.,” jelas Hafizah.
“Memang, laki-laki itu siapa kamu? Kenapa keliatannya begitu dekat?,” Tanya Anisa.

“Dia mantan pacar aku nis, kenapa?
Dia orangnya baik kok. Dan ganteng juga. Kalau gak ganteng, kan gak mungkin aku mau sama dia. Hehe,” jawab Hafizah.
Mendengar penjelasan Hafizah, Anisa merasa seperti ada yang berbeda dari sosok laki-laki ini. Hamdan ini juga sering mengajak Anisa untuk bertemu. Namun Anisa menolak, karena Anisa belum pernah bertemu berdua dengan seorang laki-laki. Beribu alasan Anisa tuangkan untuk menggagalkan niat Hamdan untuk menemui dirinya.

Saat di sekolah...
“Eh, kamu kata Hafizah terlihat dekat dengan Hamdan ya?,” tanya Sasha pada Anisa.
“Emm, Cuma sms an aja kok.,” Jawab Anisa.
“Kamu udah pernah ketemu dengannya?”, Tanya Sasha lagi.
“Belum, aku aja mau diajak ketemuan sama dia, aku selalu menolak kok.” Jawab Anisa.
“Lho kenapa?,” Sasha kembali bertanya.
“Aku sebelumnya belum pernah ketemuan sama laki-laki. Aku Cuma takut aja,” Jawab Anisa malu-malu.
“Haduhh, kamu ini. Coba dong sekali-kali menemui dia.,” Desak Sasha.
“Aku kan gak kenal sama orang itu. Aku Cuma gugup aja.” Jawab Anisa.
“Kamu gak tau dia? Dia itu dulu kakak kelas kita, dua tahun diatas kita. Kamu ini gimana sih?,” jawab Sasha geram.
“Ya kau kan gak tau, kamu tau sendiri kan kalau aku kurang kenal dan kurang berbaur dengan semua yang ada disekolah ini,” Jelas Anisa.
“Hmm iya, kamu beruntung bisa sms an dengan dia. Dia itu dulu cinta pertamaku, tapi aku tak dapat memilikinya.” Jawab Sasha menyesal.
“Emm, sabar yaa..,” Jawab Anisa sembari mengusap bahu Sasha.
“Aku setuju kok kalau kamu sama dia, kamu orangnya baik. Aku yakin dia akan bahagia sama kamu.,” Jawab Sasha yakin.
“Ahh kamu ini. Kita Cuma berteman saja kok,” Jawab Anisa sambil tersenyum.

        Entah mengapa yang dirasakan Anisa semakin hari, Anisa semakin nyaman bisa dekat dengan Hamdan.
Namun setelah sekian lama dekat, Hamdan bukan mengutarakan perasaannya buat Anisa, malah dia menanyakan seorang wanita yang merupakan teman beda kelas dengan Anisa. Anisa mulai kesal, Hamdan saat ini dekat dengannya, kenapa harus bertanya tentang wanita itu?
Tapi tak mengapa, Anisa tetap menaruh hati pada Hamdan meski dia tak memperdulikan kehadirannya. Meski dia tak tau bagaimana perawakan Hamdan, namun dia merasakan getaran itu, getaran jiwa yang menyatakan bahwa Anisa menyukainya.
Mendengar kedekatan Anisa dengan Hamdan, sahabat Anisa yakni Indah bertanya-tanya mengenai hubungan Anisa dan Hamdan.

      Tak lama kemudian, Indah meminta nomor handphone Hamdan pada Anisa. Mulanya, Anisa tak rela jika harus memberikan nomor Hamdan pada sahabatnya itu. Namun, saat Indah mendesak, dan menyangka Anisa menyukai Hamdan karena tak ingin memberikan nomor Hamdan padanya, akhirnya Anisa memberikan nomor Hamdan karena tak ingin sahabatnya tahu bahwa dirinya menyukai laki-laki itu.
Tak lama kemudian, tak terdengar kabar dari Hamdan lagi. Hamdan tak lagi menghubunginya seperti waktu lalu. Anisa mulai putus asa dengan cinta sepihaknya itu. Anisa berfikir, apakah Hamdan sibuk? Atau benar-benar tak lagi ingin menghubunginya? Entahlah, beribu fikiran tertanam dalam benak Anisa. Mengapa seperti itu? Hanya Hamdan lah yang faham betul dengan alasan dan sikapnya tersebut.
Suatu ketika, Anisa menerima sms dari Indah sahabatnya.

     Indah mula-mula menanyakan kabar Anisa. Lalu dia mulai menanyakan bagaimana hubungan Anisa dengan Hamdan. Anisa menjawab bahwa Hamdan sudah lama tak menghubungi dirinya. Anisa merasa aneh dengan sahabatnya itu, ada apa dia tiba-tiba membahas hal semacam ini?
Hingga Indah menanyakan kembali pada Anisa, apa dirinya tak menyukai Hamdan?
Namun Anisa tetap menyangkal bahwa dia tak menyukai Hamdan. Dia hanya takut saat sahabatnya mengetahui bahwa Anisa sedang menyukai seseorang yang sama sekali belum pernah dia lihat. Cinta yang tengah Anisa rasakan hanya cinta di awang-awang, cinta abstrak dan biner yang tak diketahui kebenarannya.
Saat Anisa menjawab dirinya tak menyukai Hamdan, Indah mulai bercerita.
Pada waktu Indah mendapatkan nomor Hamdan melalui dirinya, dia sering kali menghubungi satu sama lain. Bahkan tak jarang, mereka sering bertemu.

      Hingga akhirnya Indah mengakui bahwa mereka (Indah dan Hamdan) telah resmi pacaran. Mereka pacaran sudah dalam rentang seminggu tanpa Anisa ketahui.
Meski orang yang pertama kali dekat dengan Hamdan adalah dirinya, seharusnya Hamdan yang menjadi miliknya bukan sahabatnya Indah, Anisa menerima nya dengan lapang dada dalam keadaan hati yang terluka. Anisa merasa sahabatnya Indah telah menusuknya dari belakang, berpura-pura meminta nomor Hamdan hanya untuk menyimpannya, padahal pada akhirnya dia merebut Hamdan dari dirinya.

Keesokan harinya disekolah..
Banyak teman-teman dikelas yang memberi ucapan selamat pada Indah atas menyatunya dia dengan Hamdan. Namun saat Anisa yang mendengarnya, semakin memanas hatinya. Dia tidak dendam, dia menerima semuanya. Namun Hafizah, menjadi kompor untuk membuat hati Anisa semakin panas. Nampaknya Hafizah membenci Indah yang berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.

“Nis, kamu ikhlas Hamdan sama Indah?,” Tanya Hafizah.
“Kenapa memangnya? Aku ikhlas kok. Kan gak ada hubungannya denganku,” Jawab Anisa.
“Tapi bukannya kamu yang lebih dulu yang dekat dengan Hamdan? Kenapa malah Indah yang jadian dengannya?,” Kata Sasha yang membuat suasana memanas.
Setelah mendengar pernyataan dari teman-temannya, Anisa tak peduli. Anisa menganggap, dia tak ingin persahabatannya dengan Indah menjadi renggang hanya karena pernyataan temannya.
Pada saat acara diluar sekolah, Indah bilang kalau dia akan bertemu dengan Hamdan sebentar lagi. Anisa ingin menghindari pertemuan itu. Tapi dia penasaran, ini kesempatan baginya untuk bertemu Hamdan secara langsung. Mengetahui seperti apa sosok Hamdan yang selama ini dia kagumi. Meski bukan dia yang akan ditemui Hamdan, setidaknya Anisa sudah mengetahui, seperti apa Hamdan itu sebenarnya.
Kiki dan Fifi yang saat itu juga ikut dengan Anisa dan Indah, juga ingin melihat seperti apa pasangan sahabatnya itu.

Saat Hamdan datang menghampiri Indah, Kiki dan Fifi nampak berbisik.
“Oh ini orangnya, lumayan yaa..,” Kata Fifi.
Melihat Hamdan, Anisa semakin bersalah karena memberikan nomor Hamdan pada Indah. Anisa merasa seperti mak comblang yang menjembatani keduanya. Akibatnya hati Anisa yang menjadi korban akibat ulahnya sendiri.
Sasha dan Hafizah mulai memanasi hati Anisa kembali.
“Tuh,, lihat sendiri. Udah menyesal kan sekarang? Seharusnya kamu yang bersanding dengan Hamdan, bukan Indah,” Kata Hafizah.
“Iya, mereka bersenang-senang diatas penderitaanmu. Lihat, mereka tampak bahagia sedangkan hatimu terluka. Apa mereka peduli? Gak kan?,” Lata Sasha dengan nada menyindir.
Anisa hanya terdiam, sejenak mungkin kata teman-temannya benar, tapi dia tak peduli. Sahabatnya harus bahagia dengan pilihannya.

Pertemuan itu pun berlalu..

Namun pada keesokan harinya, Indah malah menghindar dari Anisa. Setiap Anisa ingin berbicara dengannya, Indah tak peduli dan menjauh darinya. Melihat semua itu, Anisa menjadi heran kenapa Indah bersikap seperti itu.
Melihat kejadian itu, Hafizah menghampiri Anisa.
“Kenapa tuh dengan Indah,” tanya Hafizah.
“Aku juga gak tau Fiz, nampaknya dia sedang tak ingin bicara denganku.,” Jawab Anisa.
“Bentar ya aku pengen ngomong sama dia,” Kata Hafizah.
Sejenak Hafizah meninggalkan Anisa, lalu kembali sesaat setelah dia selesai menemui Indah.
“Nis, aku udah tanya sama Indah kenapa dia bersikap seperti itu sama kamu,” Kata Hafizah.
“Apa katanya?,” tanya Anisa.
“Gini, dia tuh kesal sama kamu karena kamu gak jujur sama dia kalau kamu sebenarnya suka sama Hamdan,” Jawab Hafizah.
“Aku gak bermaksud seperti itu, aku bilang bahwa aku tak menyukainya karena aku tau bahwa Indah menginginkannya,” Jawab Anisa.
“Kamu ini terlalu baik Nis, sampai-sampai kebaikanmu menjadi bumerang bagi dirimu sendiri,” kata Hafizah.
“Sudahlah, biarkan dia sendiri dulu aja,” jawab Anisa.
“ya sudah, jangan minta maaf sebelum dia minta maaf terlebih dulu padamu,” pinta Hafizah.
“Iya Fiz, biarkan dia sadar dengan apa yang dia perbuat,” kata Anisa.
Setelah kejadian ini, hubungan persahabatan Anisa dan Indah menjadi pecah. Namun Fifi dan Kiki tetap bersama keduanya dan tak berpihak pada siapapun. Karena bagi mereka, Indah dan Anisa tetaplah sahabatnya. Namun, Saskia yang saat ini tengah dekat dengan Indah karena tak ada yang berteman dengan Indah dikelas karena perlakuannya pada Anisa, Saskia menghampiri Anisa.
“Nis, apa kamu gak mau baikan sama Indah? Kasian dia gak punya teman.
Mungkin jika dia berteman denganmu lagi, dia akan kembali punya banyak teman. Semua teman dikelas ini berpihak padamu. ,” tanya Saskia.
“Dia kan yang gak menyapa aku duluan, kenapa aku harus menyapanya terlebih dulu. Prinsipku, aku gak mau minta maaf terlebih dulu. Aku mau dia yang minta maaf, karena aku sama sekali gak merasa punya salah padanya.,” Jelas Anisa.
“Baiklah kalau itu keputusanmu, bagaimana kalian bisa baikan kalau sama-sama tak ingin minta maaf seperti itu.” Jawab Saskia.
“Sudahlah, nanti kalau dia sadar dia akan minta maaf dengan sendirinya,” jawab Anisa.

Dengan kejadian ini, keduanya sama-sama tak merasa bersalah. Sama-sama tak ingin meminta maaf terlebih dahulu. Malah Hafizah menganggap ini semua adalah salah Indah. Bukan salah Anisa. Karena Saskia adalah musuh Hafizah dan malah berteman dengan Indah, membuat Hafizah juga ikut membenci Indah. Entahlah, semuanya menjadi rumit dan tak terkendali dengan sikap-sikap seperti itu.
Setelah berminggu-minggu Anisa dan Indah tak lagi bersama, kini Saskia bilang pada Anisa melalui pesan teks bahwa Indah ingin meminta maaf pada Anisa. Anisa tak keberatan.
Pada sore harinya, Indah mengirim sms permintaan maaf pada Anisa. Isinya bahwa dia menyesal telah mendiami Anisa seperti itu.

        Indah mengaku bahwa dirinya sudah putus dengan Hamdan setelah tau bahwa Anisa menyukainya. Anisa tak menyangka bahwa sahabatnya itu memilih jalan ini. Anisa berkata agar Indah tak perlu mutusin Hamdan karena dirinya, Anisa menyuruh Indah untuk kembali dengan Hamdan. Anisa ingin sahabatnya itu bahagia dengan pilihannya, orang yang dia cintai.

Namun Indah menolaknya, Indah memilih lebih baik tak punya pacar jika harus kehilangan sahabat terbaiknya. Baginya, pacar bisa dicari namun sahabat akan selalu setia menemani.
Bagi Anisa pun juga, kenapa harus bertengkar gara-gara seorang cowok?  Anisa juga tak ingin persahabatannya sampai terputus gara-gara Hamdan. Laki-laki yang baru dikenal mereka, sedangkan Anisa dan Indah telah lama berteman.

Kini, Anisa dan Indah tak peduli lagi dengan seorang laki-laki yang akan menjadi perusak hubungan persahabatan mereka. Mulai kini, mereka saling terbuka tentang semua laki-laki yang mereka sukai. Dan keempat sahabat ini sampai saat ini tetaplah menjadi sahabat. Meski telah lulus, entah itu kuliah ataupun kerja, keempat sahabat itu tetaplah meluangkan waktu mereka selalu disetiap kesempatan. J
Semoga bagi sahabat dimanapun kalian berada, tetaplah jaga persahabatan kalian. Ingatlah kebersamaan dalam meraih mimpi.


Friday, April 18, 2014

My Short Story (4)

Cinta yang Murni

            Cinta memang kadangkala membuat orang buta karenanya. Segala yang ia lakukan untuk pasangannya, seakan-akan benar adanya. Namun tak selamanya cinta berujung pada keharmonisan, keselarasan dan kebaikan. Cinta mampu membangkitkan jiwa yang lemah menjadi lebih tegar, ketakutan menjadi keberanian, dan berakhir pada pengorbanan.
            Sama seperti yang Tasya rasakan, semenjak dia jatuh cinta dan menjatuhkan hatinya pada seseorang, dia tlah berikrar akan selalu menyayangi dan menjaga perasaan orang terkasihnya. Cinta pertama sekaligus pacar pertamanya itu merupakan teman SMA nya terdahulu. Mereka menjadi sepasang kekasih semenjak duduk dibangku SMA hingga menjelang akhir kuliah saat ini. Selama bertahun-tahun, Tasya selalu mencintai dan menyayangi tambatan hatinya itu, sebut saja namanya Rangga. Meski tak seharmonis kelihatannya, namun Tasya selalu mampu bertahan ditengah kepedihan yang dia rasakan. Segala hal akan dia lakukan untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Rangga berakhir baik-baik saja. Sifat Tasya yang pemurah mampu menutupi sifat Rangga yang kerap kali keras kepala dan tak bisa menjaga perasaan Tasya.
Saat dikantin kampus, terdengar perbincangan beberapa mahasiswa yang sedang membicarakan Rangga..

“Tau nggak sih, masak saat pertandingan melawan kita pasca taruhan kemarin,Rangga nggak hadir? Hahh, payah...
Ngakunya cowok, ternyata.... Banci. Hahaha”, ucap salah satu diantara mereka
“Benar, nampaknya dia tak punya malu. Jangan-jangan dia takut kalau dia akan kalah ditengah tontonan orang banyak. Dasar, banci kaleng”, Sahut Khaza yang merupakan ketua geng dalam grup tersebut.

Mendengar semua itu, Tasya tak kuat lagi menahan amarah didadanya. Dia langsung menghampiri mereka dan mulai menampakkan kemarahannya.

“Heh kalian!
Kalian ini nggak ada kerjaan lain ya selain ngurusi orang lain? Kalian pikir kalian yang paling hebat? Paling kuat? Paling berkuasa?
Dengar yah, aku nggak terima. Sama sekali aku nggak terima kalian menjelek-jelekkan cowokku didepan mataku. Kalian tahu apa tentang dia? Kalian sama sekali nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Jadi sebaiknya jangan banyak bicara. Perbaiki dan benahi dulu perbuatan kalian, baru ngurusi orang lain!”, ucap Tasya marah dan langsung berlalu dengan penuh kemarahan.

Mendengar ucapan Tasya, semua hanya diam. Suasana menjadi sunyi dan tak ada satupun suara yang terdengar. Terlebih Khaza, dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang tlah dia ucapkan. Dia hanya tertunduk dan berfikir apa yang harus dia lakukan.
Saat pulang kuliah, Khaza melihat cewek yang tadi marah-marah padanya itu merenung sendiri dekat taman. Khaza pun mendekatinya dengan iktikad baik.

“Emm, haii...”, sapa Khaza.
“Kamu? Ngpain kesini?”, sahut Tasya ketus.
“Aku Cuma mau minta maaf atas ucapan aku yang tadi, emm mungkin memang terlalu berlebihan.”, ucap Khaza.
“Aku Cuma ingin menjaga harga diri dan kehormatan pasanganku, makanya aku marah kepada setiap orang yang menghinanya. Aku menyayanginya, aku tak ingin sedikitpun ada yang menghina dia”, terang Tasya.
“Iya aku faham, maafin atas kesalahanku yang tadi.”, ucap Khaza penuh penyesalan.
“Gapapa, malah mungkin kamu ingin menghina dia sekarang, silahkan kamu lakukan. Aku gak peduli”, ucap Tasya sambil meneteskan air mata.
“Maksudmu? Kenapa kamu menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?”, tanya Khaza.
“Selama ini, semua yang aku lakukan dimata dia selalu salah. Bahkan saat aku datang ingin membelanya, semua itu hanya dia fikir aku cari muka didepan semua orang. Tapi tak seperti itu kenyataannya. Aku tuluuss..”, air mata Tasya mengalir deras.
“Emm, mungkin dia hanya salah faham”, ucap Khaza.
“Salah faham? Bukan salah faham namanya kalau dia selalu menuduhku, selalu tidak mempercayaiku. Sakit rasanya”, Tasya menjelaskan.
“Iyaa, tapi. . “, Ucapan Khaza terpotong.
“Sudahlah, aku hanya ingin sendiri. Tinggalkan aku disini sendiri. Yang aku butuhkan hanya ingin menenangkan diri.”, ucap Tasya.
“Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan,” kata Khaza sebelum dia beranjak pergi.

            Mendengar kejadian itu, Khaza menjadi ingin tahu lebih dalam sebenarnya apa yang tlah terjadi. Tapi dia berfikir, dia siapa? Setiap orang pasti punya problem sendiri-sendiri. Nanti akan terselesaikan juga masalah yang Tasya hadapi.
Namun tak selamanya setiap masalah dapat terselesaikan dengan mulus. Makin hari, Rangga terus-terusan marah pada Tasya karena masalah yang sepele. Tasya hanya bisa bersabar dan meredam situasi ini. Meski kelihatannya dia kuat, tapi sebenarnya dia sudah tidak tahan dengan semua ini. Tapi bagi dia, bertahan demi hubungannya baik-baik saja dengan Rangga, itu jauh lebih penting daripada menahan sakit yang selalu dia terima. Dia hanya tak ingin hubungan yang dia bina selama bertahun-tahun, kandas begitu saja.

“Kamu bisa nggak sih, jalan yang bener? Dari tadi selalu mau jatuh.”, ucap Rangga dengan nada tinggi.
“Aku Cuma agak pusing, aku lagi nggak enak badan”, ucap Tasya lemah.
“Alaaah.. Alasan aja kamu ini, bisanya Cuma manja aja. Jadi cewek harus tegar dong. Gitu aja nggak bisa. Payah!”, ucap Rangga menggerutu.
“Apa sih yang selama ini ada dipikiranmu? Ceweknya sakit bukan diperhatiin, malah kamu marahi seperti ini. Apa maumu? Semua yang aku lakukan, nggak ada benarnya dimatamu. Apa kamu sudah nggak sayang lagi sama aku? Hah?”, tanya Tasya kesal.
“Ahhh, sudahlah. Nggak ada gunanya berdebat dengan perempuan, bisanya Cuma nangis dan nangis.”, ucap Rangga lalu pergi meninggalkan Tasya.

Tasya merasa terpukul dengan semua perlakuan Rangga terhadapnya selama akhir-akhir ini. Rangga menurutnya tlah berubah, dia tak seperti dulu lagi yang lemah lembut memperlakukannya. Selalu memanjakannya, pengertian, dan bahkan hampir tak pernah marah padanya. Sikapnya menunjukkan bukan diri Rangga yang sebenarnya.

Ditempat biasa, taman dekat kampus.
Ditempat inilah Tasya menghabiskan waktunya untuk merenung, berdiam diri hingga menenangkan pikirannya. Baginya tak ada lagi yang sayang padanya kecuali bunga-bunga dan mentari yang selalu menampakkan sinarnya untuk menemaninya.
Khaza yang saat itu lewat ditaman tersebut, menghampiri Tasya kembali.

“Tasya, kamu disini? Kamu kenapa?
Aku lihat akhir-akhir ini, kamu selalu terlihat murung dan sedih. Beda dengan Tasya yang dulu aku kenal. Yang selalu ceria, tersenyum dan terlihat bahagia”, tanya Khaza.
“Semuanya telah berubah Za, perubahan itu yang membuat aku semakin tertekan. Rasanya aku nggak sanggup dengan semua ini. Tapi aku harus bertahan, sejauh mana aku akan bertahan, entahlah”, sahut Tasya.
Tasya menjelaskan semua yang dia alami pada Khaza, Khaza hanya bisa perihatin. Tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk membantu Tasya.

Tiba-tiba, Rangga datang dan menghampiri Tasya dan Khaza..

“Ooo.. Bagus ya? Rupanya kamu disini. Aku nyari kamu kemana-mana, nggak tahu nya enak-enakan pacaran ya disini? Bagguuss.. Udah mulai pintar sekarang main kucing-kucingan dibelakangku. Iyaa?”, bentak Rangga.
“Apa maksudmu? Aku disini Cuma ingin menenangkan hati dan pikiranku aja, tanpa ada maksud apa-apa. Aku hanya. . .”, ucapan Tasya terpotong.
“Halaah, itu Cuma alasanmu saja untuk membodohiku. Kamu kira, aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Munafik tahu nggak.”, ucap Rangga.
“Sebaiknya dengarkan penjelasan kita dulu.”, sahut Khaza.
“Nggak ada yang perlu dijelaskan. Udah ketahuan, masih aja ngeles.
Ayo ikut aku pulang”, ucap Rangga sembari menarik tangan Tasya.
“Bisa nggak sih kamu jangan kasar sama cewek? Kamu itu laki-laki apa bencong? Beraninya kamu kasar sama cewek”, ucap Khaza marah.
“Apa peduli kamu, mau sok jadi jagoan? Iya?
Jangan ikut campur masalah orang lain, kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ayoo...”, ucap Rangga dengan menyeret Tasya.

Dalam perjalanan pulang, terjadi cekcok antara keduanya. Mereka saling bertengkar dan menyalahkan. Hingga pada jalan perempatan, tanpa mereka sadari, ada mobil yang hendak melintas dari arah berlawanan. Hingga, mobil yang mereka kendarai menabrak mobil dari arah berlawanan karena kehilangan kendali.
Keduanya dilarikan kerumah sakit terdekat oleh masyarakat sekitar.
Setibanya dirumah sakit, Tasya hanya mendapati luka ringan ditangannya. Sedangkan Rangga mengalami luka yang cukup serius ditubuh dan bagian matanya.
Tasya yang saat itu berkunjung ketempat Rangga dirawat, dan bertanya pada dokter tentang keadaan Rangga.

“Bagaimana keadaanya dok?”, tanya Tasya.
“Dia mengalami luka yang cukup serius. Apalagi dibagian matanya.
Bisa saja saat dia sadar dan membuka matanya, dia tak akan bisa melihat isi dunia seperti ini kembali”, ucap dokter yang menangani Rangga.
“Maksud dokter, Rangga akan buta?”, tanya Tasya.
“Iya, bisa dibilang begitu.”, ucap dokter.
“Jangan biarkan dia buta dok, aku mohon.
Tolong selamatkan matanya dok, tolong..”, Tasya memohon sambil menangis.
“Salah satu cara agar Rangga bisa melihat lagi, jika ada yang bersedia mendonorkan mata untuknya.”, tanggas dokter.
“Saya bersedia dok.
Saya bersedia mendonorkan mata saya untuknya.”, ucap Tasya.
“Apa saudari yakin melakukan itu? Tak semudah itu melakukannya. Apa tak sebaiknya menunggu pendonor mata yang lain saja?”, kata dokter.
“Saya yakin dok, lakukan sekarang juga dok. Lakukan!”, ucap Tasya.
Karena Tasya bersikeras untuk mendonorkan matanya untuk Rangga, dokter mengabulkan permintaan Tasya. Sebelum Rangga bangun dari komanya, Tasya meminta operasi itu dilangsungkan saat itu juga.

Proses operasi berjalan dengan lancar, semuanya berjalan sesuai dengan permintaan Tasya.
Tasya meminta kepada dokter untuk merahasiakan kepada Rangga beserta keluarganya bahwa Tasya yang mendonorkan mata untuknya. Anggap saja pada saat kecelakaan, Tasya lah yang mengalami kebutaan itu.
Tak tahu lagi apa yang mesti dokter itu katakan, kebaikan hati dan ketulusan yang dimiliki Tasya memang bagaikan malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan Rangga.
Keluarga Tasya dan Rangga yang mendengar bahwa anak mereka mengalami kecelakaan, langsung menuju rumah sakit menjenguk keduanya.

“Tasya, kamu nggak apa-apa kan sayang”, tanya mama Tasya.
“Mama? Ini Mama?”, tanya Tasya.
“Sayang, mama disini. Kamu kenapa? Mama sebelah sini nak?”, jawab Mama Tasya.
Papa Tasya melambaikan tanganya kehadapan mata Tasya.
“Mah, Tasya tak bisa melihat”, sahut papa Tasya.
“Apa? Tasya, kenapa bisa seperti ini nak?”, sahut mama Tasya sambil memeluk erat tubuh putrinya.
“Mama dan papa jangan sedih ya, aku akan baik-baik saja kok ma pa..”, ucap Tasya sambil tersenyum.

Senyum itu terpancar dari wajah Tasya, baginya nyawa dan hidup Rangga lah yang lebih penting. Rangga yang lebih membutuhkan mata itu dibanding Tasya.

Selama berbulan-bulan, Rangga belum sempat bertemu dengan Tasya. Tasya pun tak terlihat lagi dikampus. Rangga merindukan Tasya, nampaknya dia salah dan menyesal tlah melakukan itu padanya.
Dia berniat mendatangi rumah Tasya dan memberikan seikat bunga untuknya.
Sesampainya dirumah tasya..

“Tasya nya ada tante?”, tanya Rangga pada mama Tasya.
“Ehh ada nak Rangga, ada kok tunggu tante panggilkan sebentar”, kata mama Tasya.
Mama Tasya membawa Tasya menemui Rangga dengan memakai kursi roda.
“Tasya...
Tasya kenapa tante? Kok pakai kursi roda?”, tanya Rangga.
“Maaf tante baru ngasih tahu kamu soal ini, soalnya Tasya nggak mau kamu tahu dulu mengenai apa yang dia alami.
Semenjak kejadian beberapa bulan lalu, Tasya sudah tidak bisa melihat lagi.
Selamanya.”, ucap Mama Tasya.
“Apa? Apa benar itu Tasya”, tanya Rangga.
“Iya sayang, aku sudah tidak bisa melihat lagi”, ucap Tasya.
“Ini tidak mungkin, tidaak..”, kata Rangga sambil pergi meninggalkan rumah Tasya.

Rangga masih belum percaya, orang yang selama bertahun-tahun mendampinginya ternyata telah tak bisa melihat lagi. Rangga tak tahu harus berbuat apa. Baginya, pendamping hidupnya haruslah sempurna. Tidak mungkin orang yang akan dia nikahi cacat seperti Tasya, Rangga mengidamkan sosok perempuan yang bisa merawatnya. Bukan malah sebaliknya.
Rangga menghilang entah kemana, pergi meninggalkan Tasya yang selama ini selalu setia menemaninya.
Tasya yang mengetahui semua itu, merasa salah menilai Rangga. Pengorbanan yang dia lakukan sama sekali tak membuahkan hasil, malah menuai petaka bagi hubungannya dengan Rangga.
Khaza yang saat itu tengah berada dirumah sakit menjenguk Tasya yang makin hari makin memburuk keadaannya. Dia depresi, sehingga menyebabkan Tasya tak bisa bangkit lagi.

“Tasya, aku disini.”, ucap Khaza.
“Khaza, kamu disini? Makasi khaza udah menjengukku”, ucap Tasya.
“Iya sya.
Gimana keadaanmu? Aku dengar dari teman kampus kalau keadaanmu semakin memburuk, makanya aku kemari ingin memastikan”, sahut Khaza.
“Iya Za, bahkan aku tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku, aku lumpuh”, ucap Tasya.
“Rangga mana? Apa dia tak menemanimu?”, tanya Khaza.
Tasya hanya menangis..
“Ada apa Sya? Kenapa kamu bersedih”, tanya Khaza lagi.
“Tak ada gunanya kamu bertanya dia disini apa tidak. Dia takkan ada disini.
Semua nya hilang, orang yang selama ini aku cinta hilang entah kemana. Dia tak menginginkanku, aku cacat”, kata Tasya sambil menangis.
“Maafkan atas pertanyaanku, seharusnya saja Rangga itu tahu akan cinta sucimu, aku yakin dia takkan meninggalkanmu disini sendiri.
Aku kagum padamu Sya, kamu tulus.”, kata Khaza.
“Sudahlah Za, aku ikhlas kok. Meski aku seperti ini sekarang. Aku gapapa”, ucap Tasya.
“Iya Sya,.
Aku pamit dulu ya, masih ada kepentingan diluar sana. Aku akan kembali menjengukmu besok”, ucap Khaza lalu pergi.

Dalam perjalanan pulang didalam rumah sakit, tanpa sengaja Khaza melewati ruangan dokter yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan seorang suster.

“Iya sus, aku kagum dengan seorang anak remaja yang mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu. Dia rela mendonorkan matanya untuk kekasihnya. Benar-benar malaikat kecil yang baik hati”, kata Dokter.
“Iya dok, kasian juga ya.
Saya dengar saat ini wanita yang mendonorkan matanya itu telah ditinggal oleh pasangannya lantaran tak mau menerima keadaan sang cewek”, kata suster.
“Benar-benar tragis, tapi bagaimanapun kita harus bisa menjaga rahasia ini demi cewek yang meminta merahasiakannya”, tangkas Dokter.

Mendengar pernyataan dokter dan suster yang ada dalam ruangan tersebut, Khaza mulai sadar bahwa yang mereka bicarakan adalah Tasya dan Rangga. Kini Khaza tahu bahwa yang seharusnya buta itu bukan Tasya. Melainkan Rangga. Namun karena Rangga tak mengetaui semua itu, dia seenaknya saja meninggalkan orang yang selama ini bisa mengembalikan dunianya.
Khaza langsung bergegas menuju kamar Tasya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah sampai diruangan Tasya, isak tangis dari semua keluarga terdengar. Tasya ternyata telah meninggalkan dunia ini. Khaza tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tidak mungkin dia mengatakan pada keluarga Tasya yang sebenarnya terjadi karena keluarga Tasya sedang berduka atas kehilangan anak kesayangan mereka.
Semenjak Tasya telah tiada, Khaza berusaha mencari Rangga kemanapun. Namun tak membuahkan hasil, Rangga tak berhasil ditemukan.
Hingga pada suatu hari, ditengah keramaian kota yang padat merayap, Rangga terlihat sedang memungut sampah dalam tong sampah. Khaza yang melihat Rangga, saat itu langsung menghampirinya.

“Rangga?”, panggil Khaza.
Rangga terlihat tak meyakini siapa yang sedang memangilnya.
“Ini aku, Khaza. Masih ingat kan?”, ucap Khaza.
“Oh, kamu..
Hah? Khaza?”, Rangga kaget dan bergegas ingin pergi setelah dia tahu bahwa itu Khaza.
Khaza menarik tangan Rangga dan menahannya untuk pergi.
“Tunggu..”, ucap Khaza.
“Apa yang kamu inginkan?”, tanya Rangga.
“Aku hanya ingin menyatakan sesuatu padamu.
Mengenai Tasya. “, terang Khaza.

Lalu Khaza menceritakan semua yang terjadi. Bahwa sesungguhnya Rangga lah yang buta, bukan Tasya. Tasya hanyalah orang yang berbaik hati mendonorkan matanya untuk Rangga.
Mendengar penjelasan Khaza, Rangga kaget dan menyesal atas semua perbuatannya. Dia merasa bersalah. Dia sadar bahwa apa yang dia lakukan salah, tak seharusnya dia meninggalkan Tasya dalam keadaan tak berdaya, terlebih Tasya adalah orang yang telah mengembalikan penglihatannya.

“Lalu Tasya bagaimana keadaannya sekarang?”, tanya Rangga.
“Tasya...
Tasya telah tiada”, ungkap Khaza.
“Apaaa??”, Rangga kaget lalu menangis.

Dengan penyesalan yang dialami Rangga, semuanya telah tak ada gunanya. Tasya tlah tiada dan tak akan pernah kembali. Rangga yang selama ini menyia-nyiakan Tasya, kini mengetahui. Pengorbanan yang Tasya berikan menunjukkan dalamnya cinta Tasya untuk Rangga, namun Rangga tak pernah menyadarinya.
Kini telah sirna, kebahagiaan dan kebersamaan yang pernah Rangga alami takkan terulang kembali.


THE END
 

Blogger news

Blogroll

About